Senin, 26 Maret 2012

Contoh Laporan Evaluasi Program

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab kita bersama baik antara pemerintah maupun  masyarakat sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 31 ayat (1) yakni memberi hak kepada setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pengajaran.
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan  Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun  wajib  mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah derah menjamin  terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.
Di bidang pembangunan pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya baik yang berkaitan dengan peningkatan kuantitas maupun kualitasnya. Dalam prakteknya, upaya itu sering kali menghadapi berbagai kendala. Krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia, misalnya disinyalir telah membawa dampak bertambahnya jumlah kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Kondisi ini menyebabkan semakin banyak orang yang tak mampu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan merupakan masalah tersendiri dalam memberikan layanan pendidikan  kepada seluruh lapisan masyarakat.
Sistem pendidikan yang dimungkinkan dapat diterapkan untuk itu adalah sistem pendidikan terbuka jarak jauh. Karena sistem pendidikan ini diterapkan pada jenjang pendidikan menengah khususnya SMP, maka kita sebut dengan SMP Terbuka.
Permasalahan dalam pendidikan sangat kompleks. Salah satu alternatif pemecahanya dimulai dari penemuan konsep SMP Terbuka oleh pemerintah yang diilhami oleh berbagai aspirasi masyarakat lapis bawah yang disampaikan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional).

Selama lima tahun masa percepatan penuntasan Program Wajb Belajar Sembilan Tahun, dari tahun 2003-2008 yang lalu, SMP Terbuka telah dapat menampung rata-rata sekitar 50.000 anak usia 13-15 tahun setiap tahun. Upaya ini merupakan karya besar yang ditangani secara sungguh-sungguh oleh Kementerian Pendidikan Nasional bersama pemerintah daerah.
Pada saat ini SMP Terbuka yang operasional berjumlah 2.111 sekolah, memiliki 7.417 lokasi Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dengan 248.432 peserta didik secara keseluruhan. Mereka dilayani 26.248 Guru Bina di Sekolah Induk dan 15.221 Guru Pamong yang mendampingi dalam pembelajaran siswa sehari-hari di TKB.
Salah satu SMP Terbuka yang ada  di Kota Makassar adalah SMP Terbuka Ujung Tanah yang sekolah induknya adalah SMP Negeri 7 Makassar yang beralokasi di jalan Cakalang No. 2 Makassar dengan jumlah TKB (tempat kegiatan belajar) sebanyak 5 TKB. Sebagai sebuah program layanan pendidikan alternatif, pelaksanaan SMP Terbuka perlu dievaluasi. Data yang aktual secara kuantitatif maupun kualitatif dapat dijadikan dasar dalam penetapan keputusan apakah penyelenggaraan program ini perlu perbaikan dan penyempurnaan atau dihentikan sama sekali.
Salah satu bentuk partisipasi untuk melihat pelaksanaan program SMP Terbuka Ujung Tanah di Makassar adalah melalui evaluasi terhadap komponen konteks, input, proses dan produk dari program SMP Terbuka. Dengan harapan bahwa faktor-faktor yang dievaluasi tersebut dapat memberikan sumbangan berarti terhadap peningkatan efektivitas pelaksanaan program SMP Terbuka di Makassar, yang nantinya berujung pada peningkatan mutu siswa SMP Terbuka. 
B.            Tujuan Program
Program SMP Terbuka ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya pemerintah  dalam  mengsukseskan wajib belajar 9 tahun, terutama diperuntukkan bagi peserta didik yang mempunyai ekonomi lemah.

C.           Sasaran Program
SMP Terbuka diperuntukkan bagi anggota masyarakat usia sekolah tertutama  bagi  mereka  yang  tidak  mampu  untuk menempuh pendidikan reguler (sekolah umum), baik  karena  kemampuan ekonomi, jarak tempuh, waktu dan lain-lain.
    
 BAB II
Metode Monitoring dan Evaluasi

A.   Jenis dan Pendekatan
Model evaluasi yang digunakan dalam memonitoring program ini adalah model evaluasi Context-Input-Process-Product (CIPP). Tujuannya adalah untuk  mengumpulkan informasi yang akurat dalam  pengambilan keputusan lebih lanjut guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan program SMP Terbuka  di masa yang akan datang. Model CIPP digunakan karena dibutuhkan ketersediaan informasi yang akurat dan menyeluruh.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan didukung pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendapatkan hasil monitoring dan evaluasi yang mendalam dan komprehensif.  Pendekatan ini digunakan untuk menangani data-data yang bersifat kuantitatif (angka).

B.     Tahapan monitoring dan evaluasi
Fokus monitoring dan evaluasi berdasarkan tahapan monitoring dan evaluasi Context-Input-Process-Product dikemukakan sebagai berikut:
a.     Penilaian konteks meliputi profil TKB (tempat kegiatan belajar), latar belakang program SMP Terbuka Ujung Tanah, faktor geografis-demografis,  dan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua siswa.  Informasi yang dikumpulkan digunakan sebagai dasar dalam pertimbangan program. 
b.    Penilaian input meliputi peserta didik, kurikulum, bahan ajar, guru dan tenaga administrasi serta sarana belajar. Data dikumpulkan selama tahap penilaian digunakan sebagai pengambil keputusan.
c.     Penilaian proses adalah kegiatan penilaian selama pelaksanaan  pendidikan. Penilaian ini berkaitan langsung dengan  pelaksanaan tutorial,  aktivitas belajar, penggunaan media pembelajaran, kemanfaatan laboratorium, kunjungan kepala sekolah, pemberian jenis tugas,  fasilitas guru pamong,  dan fasilitas guru bina.
d.  Penilaian produk/output, berhubungan dengan hasil pelaksanaan program. Penilaian dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh  pelaksanaan program SMP Terbuka di Ujung Tanah telah berhasil mencapai tujuan berdasarkan kriteria yang ditetapkan, yang meliputi  hasil belajar peserta didik, nilai rerata dan jumlah kelulusan dalam ujian nasional.
Dasar kegiatan dalam evaluasi program pelaksanaan rintisan SMP Terbuka ini melalui tahapan-tahapan konteks, input, proses dan produk.  Penggunaan model CIPP dalam evaluasi program ini karena:
1.         Dengan model CIPP, maka kegiatan evaluasi pelaksanaan program SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilakukan perbandingan yang mendasar antara data di lapangan dengan standar yang ditentukan.
2.    Dapat membuat evaluasi dan penilaian tentang pelaksanaan SMP Terbuka dilihat dari indikator konteks, input, proses dan produk/output.
3.      Dengan model CIPP, indikator konteks, input, proses dan produk/output yang dibandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan tujuan dengan keadaan sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang ditentukan.
Untuk memudahkan monitoring evaluasi, maka perlu dilihat indikator indikator yang terdapat dalam konteks, input, proses dan output yang digunakan dalam monitoring evaluasi  ini, yaitu:
Tabel 1 Indikator-indikator Evaluasi
Konteks
Input
Proses
Output
1. Profil tempat  belajar
2. Latar belakang program SMP Terbuka
3. Faktor geografis
4. Latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua Siswa
(1)  Peserta didik
(2)  Kurikulum
(3)  Bahan ajar
(4)  Guru dan
      tenaga
     administrasi
(5)  Sarana
      Belajar
1. Pelaksanaan tutorial
2. Aktivitas belajar siswa
3. Penggunaan media pembelajaran
5. Kunjungan Kep. Sek.
6. Pemberian jenis tugas
7.  Fasilitasi guru pamong
8.  Fasilitasi guru bina
(1)   Hasil belajar
(2)   Nilai rerata untuk 10 mapel.
(3)   Jumlah kelulusan

C.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan, yang kemudian dibandingkan dengan standar pengelolaan SMP Terbuka yang telah disusun oleh Pustekom dan Dikmenum sebagai pedoman pelaksanaan.
Subjek informan dalam monitoring evaluasi  ini adalah orang‑orang yang mengetahui, berkaitan dan atau menjadi pelaku dari suatu kegiatan pendidikan, mereka diharapkan dapat memberikan informasi secara lengkap tentang penyelenggaraan SMP Terbuka.
1.   Kepala Sekolah SMP N 7 Makassar  sebagai penyelenggara SMP Terbuka dan melakukan supervisi ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB).
2.   Guru Bina di SMP Induk yang secara berkala memberikan tutorial kepada siswa di Tempat Kegiatan Belajar
3.   Guru pamong di Tempat Kegiatan Belajar yang mempunyai tugas membantu siswa belajar yang dilakukan secara berkala di Tempat Kegiatan Belajar
4.   Peserta didik SMP Terbuka Ujung Tanah
5.   Masyarakat setempat yang peduli dengan adanya Tempat Kegiatan Belajar bagi peserta didik SMP Terbuka Makassar
6.   Kepala Tata Usaha SMP N 7 Makassar
Tabel 2 Data dan Sumber Data
KOMPONEN
ASPEK
INDIKATOR
SUMBER DATA
INSTRUMEN PENGUMPUL DATA
Konteks
(1)   Profil tempat
       belajar




(2)     Latar belakang program SMP Terbuka

(3)     Faktor geografis- demografis




(4)   Latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua peserta didik
Nama TKB, tahun dibuka, SMP yang membina, alamat TKB, jadwal KBM, pola pembelajaran.

Tujuan, sasaran



Jarak tempat tinggal peserta didik dengan TKB, transportasi ke TKB, waktu tempuh ke TKB


Biaya-pulang pergi ke TKB.
Tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua dan alasan peserta didik masuk SMP Terbuka.
Kepala Sekolah




Kepala sekolah
 

Pedoman Pengelolaan SMP Terbuka



Peserta didik


Pedoman wawancara





Pedoman angket



 Analisis dokumen

Pedoman angket




Pedoman angket

Input
(1)  Peserta didik



 
(2)     Kurikulum


(3)       Bahan ajar


(4)      Guru dan tenaga administra-si

(5)  Sarana
      belajar

Jumlah peserta didik, jumlah calon peserta didik, latar belakang peserta didik

Kurikulum yang digunakan

Bahan ajar yang digunakan

Jumlah guru dan tenaga  administrasi

 
Ruang tempat belajar, ruang perpustakaan khusus, administarsi laboratorium.
Kepala sekolah

 

Kepala sekolah

Guru pamong

Guru pamong Guru bina
 
Tempat belajar
Pedoman angket



 
Pedoman angket


Pedoman angket


Pedoman angket


 
Pedoman observasi
Proses
(1)  Pelaksanaan tutorial



(2)  Aktivitas belajar





(3)  Penggunaan media pembelajar-an


(4)      Kemanfaat-an laboratori-um dan perpustaka-an


(5)      Kunjungan Kep. Sek.

(6)  Pemberian jenis tugas


(7)   Fasilitasi guru pamong












(8)  Fasilitasi guru bina
Tutorial di sekolah induk, konsultasi di TKB,  guru mengajar di TKB.

Belajar mandiri, diskusi antar peserta didik, diskusi peserta didik dengan:  pamong, guru bantu, dan  guru bina
Modul pegangan guru, video pembelajaran, audio pembelajaran, OHP

Penggunaan laboratorium

  

Kunjungan ke TKB


Tugas mandiri, tugas akhir unit, tugas akhir modul

Menyusun jadwal, membuat alokasi waktu tambahan untuk mata pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, memfasilitasi kegiatan diskusi, membuat catatan  segala permasalahan atau kesulitan peserta didik, membuat laporan perkembangan belajar peserta didik

Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik, menjawab pertanyaan langsung dari peserta didik,mengoreksi hasi tes akhir modul, melaksanakan kegiatan tutorial, melakukan penilaian.
Guru pamong

Guru bina

Tempat belajar

Guru pamong



Tempat belajar


Guru pamong
Guru bina
 Tempat belajar
peserta didik

 
Kepala sekolah

peserta didik



Guru pamong

Guru bina











Guru pamong


peserta didik

peserta didik

Guru pamong

Pedoman angket


Pedoman angket

Pedoman observasi

Pedoman angket



Pedoman observasi
Pedoman angket


Pedoman angket
Pedoman observasi





Pedoman angket


Pedoman angket



Pedoman angket


Pedoman angket










Pedoman angket


Pedoman angket


Pedoman angket
Produk/
Output
(1)     Hasil belajar peserta didik



(2)   Nilai rerata peserta didik untuk 11 mata pelajaran.

(3)   Jumlah kelulusan peserta didik

Hasil belajar tes akhir unit, tes akhir modul dan ulangan umum semester.
 
Nilai rerata peserta didik untuk 11 mata pelajaran.


 Jumlah kelulusan peserta didik dalam UN.
Guru bina



 
Tempat belajar



 Kepala sekolah

Tempat belajar
Pedoman angket



 
Analisis dokumen




 Pedoman angket

Analisis dokumen

Teknik pengumpulan data dalam monitoring  evaluasi ini terdiri dari: (1) wawancara terbuka dan mendalam; (2) observasi/ pengamatan langsung; dan (2) dokumen tertulis.
Sasaran yang menjadi pengamatan untuk kegiatan monitoring evaluasi  ini meliputi proses pembelajaran di kelas (sekolah) untuk mengungkap data tentang proses pembelajaran di sekolah dan kelompok belajar serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dan kelompok belajar.  Sedangkan dokumen yang digunakan dalam penelitian adalah arsip evaluasi hasil belajar (ujian formatif/sumatif, UN, uji kompetensi) serta data tertulis lainnya yang dianggap perlu.
D.    Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif, yaitu dengan mendeskripsikan dan memaknai data dari masing masing indikator komponen konteks, input, proses dan produk/output yang dievaluasi. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menyajikan hasil perhitungan statistik diskriptif berupa tabel frekuensi dan presentase yang didapat dari hasil monitoring evaluasi
Untuk memudahkan dalam monitoring evaluasi program, maka diperlukan kriteria evaluasi.



Tabel 3  Aspek- Aspek dan Kriteria Evaluasi
Variabel/Objek Penelitian

Aspek yang Dievaluasi

Kriteria Keberhasilan

1.      Peserta Didik



2.      Kurikulum




3.      Kegiatan Belajar Mengajar









4.      Penilaian hasil belajar peserta didik

5.Fasilitas Pendidikan




6.      Ketenagaan





7.      Hasil belajar
§  Persyaratan Administrasi (STTB/NEM) seleksi awal


§  Dokumen kurikulum
§  Silabi pembelajaran SMP Terbuka


§  Kesesuain materi dengan kompetensi yang diajarkan
§  Persiapan Tutorial
§  Interaksi tutorial
§  Penggunaan media/modul pembelajaran





§  Penilaian sumatif dan formatif
§  Hasil penilaian UN


§  Modul Pembelajaran
§  Media Pembelajaran



§  Administrasi penyelenggaraan
§  Fasilitasi guru bina
§  Fasilitasi guru pamong



§  Penilaian untuk mengetahui hasil belajar  peserta didik meliputi :
·        Tes Akhir Modul (TAM)
·        Tes Akhir Semester (TAS )
§  Ujian Akhir Nasional (UAN )
§  Jumlah kelulusan dalam ujian nasional
1.  Ada persyaratan administrasi (STTB/NEM)
1 Terdapat dokumen kurikulum
2. Terdapat silabi program pembelajaran
1.   Ada hasil kesesuaian materi dengan kompetensi yang diajarkan
2.   Adanya SAP
3.   Terdapat Interaksi saat tutorial
4.   Tutor menggunakan media/modul pembelajaran
§  Adanya hasil penilian sumatif dan formatif
§  Adanya hasil penilian UAN

§  Adanya modul pembelajaran
§  Adanya media pembelajaran

§  Adanya administrasi penyelenggaraan
§  Kemampuan pengelolaan guru bina
§  Adanya  guru pamong

§  Adanya hasil tes akhir modul
§  Adanya hasil tes semester
§  Adanya hasil penilaian UAN 




BAB III
Hasil Monitoring dan Evaluasi

A.           Komponen Konteks SMP Terbuka Ujung Tanah
1.      Profil Tempat Kegiatan Belajar (TKB)
a.      Profil Umum/Historis
SMP Terbuka Ujung Tanah memiliki 5 TKB yang jumlah siswa pasang surut berhubung karena berbagai faktor, misalnya lokasi sekolah induk yang terlalu jauh dari TKB, adanya kerancuan antara guru bina dengan guru pamong.
SMP Terbuka Ujung Tanah bernaung di sekolah induk yaitu SMP Negeri 7 Makassar yang berlokasi di Jalan Cakalang No. 2 Makassar.
1)      TKB Tabaringan
TKB Tabaringan  merupakan salah satu TKB yang dibina oleh SMP Terbuka Ujung Tanah. TKB Tabaringan berlokasi di SD  Inpres Tabaringan yang terletak di Jalan Tinumbu  Pasar Cidu  Makassar.    Kegiatan belajar di TKB Tabaringan  menggunakan pola belajar 2 : 4, artinya dalam satu minggu 2 hari belajar dengan tatap muka, dan 4 hari  belajar secara mandiri dengan bimbingan guru pamong. Kegiatan belajar tatap muka dilaksanakan pada hari Jum’at dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular. Kegiatan belajar dilaksanakan pada sore hari, setelah kegiatan belajar peserta didik kelas reguler selesai. Selama dua hari tersebut peserta didik belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bidang studi sebagai guru bina. Sedangkan yang 4 hari lainnya mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina.
Jarak tempat tinggal peserta didik ke sekolah Induk bervariasi, ratra-rata jarak dari rumah ke Sekolah Induk antara  5 km sampai 10 km. Untuk pergi – pulang dari tempat tinggal siswa ke Sekolah Induk pada umumnya peserta didik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Sedangkan peserta didik yang jaraknya dekat, biasanya berjalan kaki. Pada umumnya mereka sekali naik angkot sudah sampai di Sekolah Induk. Peserta didik yang paling jauh jarak dari rumah ke Sekolah Induk, paling banyak tiga kali peserta didik pindah angkot untuk sampai ke TKB.
TKB Tabaringan   pada tahun ajaran 2011 membina 3  kelas, terdiri dari masing-masing satu kelas untuk setiap tingkat yaitu kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Jumlah peserta didik keseluruhan sebanyak 60 orang. Guru Pamong sekaligus penanggung jawab TKB Tabaringan adalah H Asri . Jumlah guru bina di TKB Tabaringan sebanyak 23 orang.
2)      TKB Capoa
TKB Capoa bertempat di SD Negeri Bertingkat Galangan II . Sistem pembelajaran di TKB Capoa menggunakan pola 2 : 4. Siswa di TKB Capoa belajar 2 hari, yaitu hari Jumat dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah induk. Kegiatan belajar dilaksanakan pada sore hari setelah peserta didik SMP Negeri 7 Makassar pulang. Mereka belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bidang bina dari sekolah tempat TKB diselenggarakan (SMP Negeri 7), sedangkan yang 4 hari mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina.
Jarak tempat tinggal siswa ke Sekolah Induk bervariasi, ratra-rata jarak dari rumah ke Sekolah Induk antara  5 km sampai 10 km. Untuk pergi – pulang dari tempat tinggal peserta didik ke Sekolah Induk pada umumnya  peserta didik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Sedangkan peserta didik yang jaraknya dekat, biasanya berjalan kaki. Pada umumnya mereka sekali naik angkot sudah sampai di Sekolah Induk. Peserta didik yang paling jauh jarak dari rumah ke Sekolah Induk, paling banyak tiga kali peserta didik Capoa  pada tahun ajaran 2011 membina 3 kelas, terdiri dari kelas VII satu kelas, kelas VIII satu kelas, dan kelas XI satu kelas. Jumlah peserta didik keseluruhan sebanyak 56 orang, Guru Pamong pada TKB Capoa adalah Kamaruddin, S.Pd  Jumlah guru bina  sebanyak 4 orang yang berasal dari guru SMP Negeri 7 Makassar.
3)      TKB Pannampu
TKB Pannampu  bertempat di SD Negeri Beroanging  Lokasi TKB di jalan Tinumbu NO. 2 Makassar  Sistem pembelajarannya  menggunakan pola 2 : 4, artinya 2 hari belajar tutorial tatap muka dan 4 hari belajar mandiri.
Kegiatan belajar di TKB Pannampu  berlangsung 2 hari, yaitu hari Jumat dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular berlangsung pada sore hari. Peserta didik belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bina, sedangkan yang 4 hari mereka belajar mandiri di rumah atau tempat lain.
Jarak tempat tinggal peserta didik ke Sekolah Induk bervariasi, ratra-rata jarak dari rumah ke Sekolah Induk antara  5 km sampai 10 km. Untuk pergi – pulang dari tempat tinggal peserta didik ke sekolah Induk pada umumnya  menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Sedangkan peserta didik yang jaraknya dekat, biasanya berjalan kaki. Pada umumnya mereka sekali naik angkot sudah sampai di Sekolah Induk. Peserta didik yang paling jauh jarak dari rumah ke Sekolah Induk, paling banyak tiga orang. TKB  Pannampu  pada tahun ajaran 2011 membina 3 kelas, terdiri dari kelas VII satu kelas, kelas VIII satu kelas, dan kelas XI satu kelas. Jumlah siswa keseluruhan sebanyak 78 orang, Guru Pamong pada TKB Capoa adalah Hj . Nurasri, S.Pd  Jumlah guru bina  sebanyak  4 orang yang berasal dari guru SMP Negeri 7 Makassar.
4)      TKB Totaka
TKB Totaka bertempat di SD Negeri  Totaka.  TKB Totaka  baru dibuka tahun 2004. Peserta didik di TKB Totaka  belajar 2 hari, yaitu hari Sabtu dan Selasa dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular. Mereka belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bidang studi, sedangkan yang 4 hari lainnya mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mereka hanya belajar selama 2 hari di TKB dan tidak pernah ke sekolah induk.
Untuk tahun ajaran 2011/2012 TKB Totaka memiliki peserta didik sebanyak 76 yang terbagi dalam tiga kelas yaitu kelas VII sebanyak satu kelas, kelas VIII sebanyak satu kelas, dan kelas IX sebanyak satu kelas.
5)      TKB Ujung Tanah
TKB Ujung Tanah  bertempat di SD Inpres layang  TKB  Ujung Tanah dibuka tahun 2003. Proses pembelajaran bagi peserta didik di TKB Ujung Tanah yaitu  2 hari, pada  hari Jumat dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular. Mereka belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bina, sedangkan yang 4 hari mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina. Jumlah kelas yang dibina TKB Ujung tanah adalah sebanyak tiga kelas dengan masing-masing satu kelas untuk setiap tingkatan kelas, yaitu kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Jumlah peserta didik seluruhnya adalah 80 peserta didik.
2.      Faktor Geografis
SMP Terbuka dirancang untuk mengatasi kendala geografis para peserta didik. Salah satu kendala geografis adalah jarak tempat tinggal peserta didik yang jauh dari Sekolah Induk atau SMP terdekat, bahkan dari transportasi yang sulit untuk menuju TKB dan waktu tempuh yang cukup jauh, sehingga membutuhkan biaya pulang-pergi menunju TKB cukup besar.
a. Jarak dari Rumah ke TKB
Hasil evaluasi mengenai jarak dari rumah peserta didik dengan TKB dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4  Jarak dari Rumah ke TKB
TKB
Frekuensi dan Jarak dari Rumah ke TKB
Jumlah
≤ 2 km
2 - 5 km
5 - 10 km
10 - 15 km
≥ 15 km
Tabaringan
12
10
8
20
10
60
Capoa
6
12
8
16
14
56
Pannampu
13
17
10
18
20
78
Totaka
14
18
15
11
18
76
Ujung Tanah
20
14
14
15
17
80
Total
65
71
55
80
79
350
%
18.57
20.29
15.71
22.86
22.57
100
Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa jarak dari rumah peserta didik dengan TKB yang lebih dari 15 km adalah sebanyak 22,57 %, 10 – 15 km sebanyak 22,86 %, 5-10 km sebanyak 15,71 %, 2-5 km sebanyak 20,19 % dan kurang dari 2 km sebanyak 18,57 %.
Untuk menuju TKB, peserta didik menggunakan beberapa jenis sarana  transportasi, seperti angkot, ojek, dan ada juga yang jalan kaki. Data mengenai frekuensi dan jenis transportasi yang digunakan oleh para siswa untuk menuju TKB  dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5 Transportasi ke TKB
TKB
Frekuensi dan Sarana Transportasi ke TKB
Jumlah
Angkot
Ojek
Jalan Kaki
Lain-lain
Tabaringan
30
0
22
8
60
Capoa
23
6
26
1
56
Pannampu
30
8
32
8
78
Totaka
28
4
42
2
76
Ujung Tanah
31
9
39
1
80
Total
142
27
161
20
350
%
40.58
7.71
46
5.71
100


           








Dari tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang menggunakan sarana transportasi angkot menuju TKB sebanyak 40,58 %, transportasi ojek sebanyak 7,71 %, jalan kaki sebanyak 46 % dan lain-lain sebanyak 5,71 %.
Sedangkan waktu tempuh yang digunakan peserta didik menuju TKB dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6   Waktu Tempuh ke TKB
TKB
Frekuensi dan Waktu Tempuh ke TKB
Jumlah
≤ 30 menit
0,5 - 1 jam
1 - 2 jam
≥ 2 jam
Tabaringan
12
8
22
18
60
Capoa
17
10
12
17
56
Pannampu
18
16
20
24
78
Totaka
21
10
30
15
76
Ujung Tanah
26
9
19
26
80
Total
94
53
103
100
350
%
26.86
15.14
29.43
28.57
100










Dari tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang memerlukan waktu tempuh menuju TKB kurang dari 30 menit sebanyak 26,86 %, 0.5 – 1 jam sebanyak 15,14 %, 1-2 jam sebanyak 29,43 % dan lebih dari 2 jam sebanyak 28,57 %.
Selanjutnya dari sisi biaya, maka besarnya biaya yang dihabiskan untuk menuju TKB dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7 Biaya Pergi Pulang ke TKB
TKB
Frekuensi dan Biaya Pergi Pulang  ke TKB
Jml
≤ Rp 5 rb
Rp5 - 7 rb
Rp 7 -9 rb
≥ Rp 9 rb
Tabaringan
45
8
5
2
60
Capoa
33
12
10
1
56
Pannampu
48
16
12
2
78
Totaka
52
20
3
1
76
Ujung Tanah
54
19
5
2
80
Total
232
75
35
8
350
%
66.29
21.42
10
2.29
100









Dari tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang menghabiskan biaya kurang dari Rp 5.000 adalah sebanyak 66,29 %, Rp 5.000 - Rp 7.000 sebanyak 21,42 %, Rp 7.000 - 9.000 sebanyak 10 %, dan lebih dari Rp 9.000 sebanyak   2,29 %. 

3.      Latar Belakang Sosial Ekonomi dan Pendidikan Orang Tua Peserta Didik
Latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua yang masih rendah merupakan salah satu faktor yang mendorong peserta didik  memeilih atau masuk ke SMP Terbuka. Klasifikasi besarnya penghasilan orang tua peserta didik setiap TKB di SMP Terbuka Ujung Tanah  dapat dilihat pada tabel berikut.



Tabel 8
Penghasilan Orang Tua Peserta Didik  SMP Terbuka Ujung Tanah  per TKB
Penghasilan
Frekuensi dan Presentase Penghasilan Orang Tua per TKB SMP terbuka Ujung Tanah
Jumlah
Tabaringan
Capoa
Pannampu
Totaka
Ujung Tanah
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
≤ 200 rb
30
50
33
59
44
56
45
59
41
51
193
55
200 – 400
15
25
18
32
16
21
21
28
24
30
94
27
400 – 600
12
20
4
7
12
15
7
9
10
13
45
13
600 – 800
2
3
1
2
4
5
2
3
3
4
12
3
≥ 800
1
2

0
2
3
1
1
2
3
6
2
Total
60
100
56
100
78
100
76
100
80
100
350
100
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa orang tua peserta didik yang mempunyai penghasilan  kurang dari Rp 200.000 adalah sebanyak 55 %,   Rp 200.000 - 400.000 sebanyak 27 %,  penghasilan Rp 400.000 - 600.000 sebanyak 13 %, dan penghasilan Rp 600.000 - 800.000 sebanyak 3 % dan penghasilan di atas Rp 800.000 sebanyak 2 %.
Jenis pekerjaan orang tua peserta didik sebagian besar adalah buruh, nelayan, sopir, dan ada juga yang wirausaha serta Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hasil evaluasi mengenai jenis pekerjaan orangtua peserta didik pada setiap TKB SMP Terbuka Ujung Tanah  dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel   9        
Pekerjaan Orang Tua Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah  per TKB
Pekerjaan
Frekuensi dan Presentase Pekerjaan  Orang Tua per TKB SMP terbuka Ujung Tanah
Jumlah
Tabaringan
Capoa
Pannampu
Totaka
Ujung Tanah
f
%
f
%
F
%
f
%
f
%
f
%
Buruh
32
53
34
61
37
47
36
47
41
51
180
51
Nelayan
10
17
10
18
18
23
19
25
26
33
83
24
Supir
10
17
4
7
12
15
11
14
8
10
45
13
PNS

0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
W. Usaha

0
2
4
5
6
1
1
3
4
11
3
lain-lain
8
13
6
11
6
8
9
12
2
3
31
9
Total
60
100
56
100
78
100
76
100
80
100
350
100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa sebahagian besar (51 %) pekerjaan dari orang tua peserta didik adalah sebagai buruh.  Sedangkan yang lainnya adalah sebagai nelayan (24 %),  sopir (13 %),  PNS  (0 %), wirausaha  (3 %), dan lain-lain (9 %). Selanjutnya hasil evaluasi mengenai tingkat pendidikan orang tua peserta didik SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 10 Tingkat Pendidikan Orang Tua Peserta Didik  SMP Terbuka Ujung Tanah per TKB
Pendidikan
Frekuensi dan Presentase Pekerjaan  Orang Tua per TKB SMP terbuka Ujung Tanah
Jumlah
Tabaringan
Capoa
Pannampu
Totaka
Ujung Tanah
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
F
%
≤ SD
8
13
15
27
17
22
32
42
32
40
104
30
SD
22
37
15
27
22
28
22
29
29
36
110
31
≤SMP
13
22
17
30
31
40
9
12
13
16
83
24
SMP
15
25
8
14
8
10
12
16
5
6
48
14
     SMA
2
3
1
2

0
1
1
1
1
5
1
Total
60
100
56
100
78
100
76
100
80
100
350
100
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa sebahagian besar (31 %) tingkat pendidikan dari orang tua peserta didik di SMP Terbuka Ujung Tanah adalah SD, dan yang tidak tamat SD sebanyak 30 %, tidak tamat SMP sebanyak 24 %, tamat SMP sebanyak 14 %,  tamat SMA hanya sebanyak 1 %. 
Berbagai alasan melatarbelakangi para siswa untuk belajar di SMP Terbuka Ujung Tanah. Hasil evaluasi mengenai alasan peserta didik untuk mengikuti pendidikan SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11    Alasan Peserta Didik Masuk SMP Terbuka
Pendidikan
Frekuensi dan TKB SMP terbuka Ujung Tanah
Jumlah
TBR
CAP
PNM
TOT
U.T
F
f
F
f
F
f
%
Tidak dipungut Biaya
45
24
38
44
45
196
56
Biaya Rendah
11
29
26
23
28
117
33
Waktu belajar dapat diatur
4
3
14
9
7
37
11
Total
60
56
78
76
80
350
100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa alasan yang terbesar para peserta didik untuk mengikuti pendidikan di SMP Terbuka adalah tidak dipungut biaya (56 %), alasan karena biaya rendah sebanyak 33 % dan alasan karena waktu belajar dapat di atur sebanyak 11 %.
Secara konteks, SMP Terbuka dirancang untuk peserta didik yang memiliki  kendala waktu untuk belajar di sekolah reguler. Data dari berbagai komponen konteks yang telah diuraikan di atas, menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti pendidikan di SMP Terbuka Ujung Tanah sebenarnya karena di latar belakangi oleh   masalah  ekonomi, bukan karena mereka memiliki jarak tempat tinggal yang  jauh  dari TKB atau pun di latar belakangi oleh kendala waktu untuk belajar.  Kondisi yang ada sebenarnya menunjukkan bahwa mereka belajar di SMP Terbuka karena kendala ekonomi keluarga untuk membiayai pendidikan anaknya pada sekolah reguler, sementara  sekolah di  SMP Terbuka tidak dipungut biaya.  Latar  belakang  ekonomi keluarga tergolong miskin dapat terlihat  dari  penghasilan  orang tua  peserta didik tergolong  sangat rendah, yakni kurang dari Rp 200.000,-/bulan (dibawah UMR), serta latar belakang pendidikan orangtua peserta didik juga tergolong minim yaitu berpendidikan dasar (SD). Dengan demikian  dapat dikatakan bahwa yang belajar di SMP Terbuka Ujung Tanah  rata-rata adalah peserta didik yang memiliki kendala ekonomi dan latar belakang pendidikan orang tua yang tidak memadai.

B.                Komponen Input SMP Terbuka Ujung Tanah
Sajian aspek input dalam penelitian evaluasi ini meliputi: (1) peserta didik yang mengikuti pendidikan di SMP Terbuka Ujung Tanah,  (2) kurikulum, (3) bahan ajar,  (4) guru dan tenaga administrasi,  (5) sarana dan prasarana relajar.
1.      Peserta Didik
Hasil evaluasi mengenai peserta didik yang mengikuti pendidikan di SMP Terbuka Ujung Tanah untuk tahun ajaran 2011/2012 adalah sebanyak 350 orang.
2.      Kurikulum
Dari hasil evaluasi yang dilakukan, ditemukan bahwa kurikulum yang digunakan di SMP Terbuka Ujung Tanah  menggunakan kurikulum yang sama dengan SMP reguler, secara umum meliputi mata pelajaran:  (1) Pendidikan Agama, (2) PKn, (3)Seni Budaya, (4) Pendidikan Jasmani , (5) Bahasa Indonesia  , (6)Bahasa Inggeris,  (7) Matematika,  (8) IPA ,(9) IPS , (10) TIK , (11) Muatan Lokal.
3.      Bahan Ajar   
Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa bahan ajar utama di SMP Terbuka Ujung Tanah  adalah bahan ajar cetak berupa modul, yang dirancang secara khusus oleh Pustekkom dan Dikmenum sehingga dapat dipelajari peserta didik secara mandiri.  Selain modul, di SMP Terbuka Ujung Tanah  juga dikembangkan bahan ajar penunjang seperti program audio, video/VCD dan media lainnya. Namun sarana penunjang tersebut hanya terdapat pada SMP induk, sehingga peserta didik yang ada pada TKB tidak dapat menggunakannya. 
4.      Guru dan Tenaga Administrasi
Guru yang terdapat di SMP Terbuka terdiri dari guru bina, guru pamong, guru pamong khusus, dan guru BK (bimbingan konseling).  Guru bina adalah guru mata pelajaran di sekolah penyelenggara yang bertugas membina kegiatan pembelajaran peserta didik SMP Terbuka sesuai mata pelajaran yang menjadi kewenangannya. Sedangkan guru pamong, adalah anggota masyarakat yang diserahi tugas untuk membimbing kegiatan belajar peserta didik di TKB.  Setiap TKB mempunyai seorang guru pamong, yang bisa berasal dan guru SD atau tokoh masyarakat setempat. Guru pamong khusus, yaitu warga masyarakat di sekitar TKB yang memiliki keterampilan tertentu dan berperan sebagai nara sumber sesuai keterampilan yang dimiliki.  Guru pamong khusus yang biasanya diperlukan misalnya: tokoh agama, pengusaha, wiraswastawan, seniman, olahragawan atau tokoh masyarakat lain yang memiliki keterampilan khusus. Sedangkan guru bimbingan dan konseling (BK), adalah guru BK yang juga bertugas  di SMP  induk.  Di samping  itu  SMP Terbuka juga dilengkapi dengan tenaga administrasi, dengan memanfaatkan satu atau beberapa tenaga administrasi dari sekolah induk yang diberi tugas khusus untuk mengelola administrasi SMP Terbuka.
Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa masing-masing TKB memiliki lebih dari satu orang guru pamong, sedangkan guru bina tidak ada.
      5.    Sarana Belajar
      a.   Ruang Tempat Belajar
Tempat pelaksanaan belajar untuk SMP Terbuka bisa beragam, di antaranya  ada  yang menempati bangunan sekolah, rumah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ruang belajar yang digunakan oleh TKB secara keseluruhan adalah bangunan sekolah (100 %).  Karena TKB didirikan di sekolah induk, sehingga  untuk  ketersediaan  ruang  belajar  beserta  muebilernya mencukupi dan layak digunakan.
b.      Ruang Perpustakaan Khusus
Hasil monitoring evaluasi menunjukkan bahwa ketersediaan ruang perpustakaan khusus untuk masing-masing TKB belum ada (0 %), sehingga untuk sarana perpustakaan ini masih bergabung dengan sekolah induk.
c.       Laboratorium
Ketersediaan  laboratorium  di sekolah induk SMP Terbuka yang dimaksud adalah laboratorium IPA dan laboratorium komputer. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa keberadaan laboratorium tersebut  untuk masing-masing TKB seluruhnya (100 %) disediakan oleh sekolah induk.
d.       Administrasi
            Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa administrasi mengenai kesiswaan, kepegawaian, keuangan dan daftar peralatan di masing-masing TKB ada, tapi kurang lengkap.  Administrasi secara lengkap terdapat di sekolah induk.  Di setiap TKB memiliki  daftar kehadiran peserta didik, guru  pamong dan guru bina.

C.    C. Komponen Proses SMP Terbuka Ujung Tanah
Sajian aspek proses dalam monitoring evaluasi ini meliputi: (1) pelaksanaan tutorial pembelajaran; (2) aktivitas belajar; (3) penggunaan media pembelajaran; (4) kemanfaatan laboratorium dan perpustakaan; (5) kunjungan kepala sekolah ke TKB; (6) pemberian jenis tugas; (7) fasilitasi guru pamong; (8) dan fasilitasi guru bina.
1.   Pelaksanaan Tutorial  Pembelajaran di SMP Terbuka Ujung Tanah
Tutorial adalah bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru bina kepada para peserta didik SMP Terbuka yang dilaksanakan di sekolah induk dengan waktu pelaksanaan bimbingan  terjadwal.  Tutorial merupakan ciri khas dari sistem pendidikan terbuka.
Aktivitas Belajar Peserta Didik
Ciri khusus pembelajaran di SMP Terbuka antara lain adalah: (1) mewajibkan kepada peserta didik untuk mampu belajar mandiri; (2) mampu berdiskusi antar teman untuk mencari penyelesailan persoalan kesulitan belajar; (3) mampu berdiskusi dengan guru pomong dalam mencari penyelesaian persoalan kesulitan belajar; dan (4) mampu serta mempunyai keberanian berdiskusi, bertanya  dengan guru bina untuk mencari jawaban tentang permasalahan kesulitan belajar.
Aktivitas belajar peserta didik di SMP Terbuka Ujung Tanah  meliputi kegiatan belajar  mandiri, diskusi antar teman, diskusi dengan guru pamong, diskusi dengan guru bina, dan mendengarkan guru bina mengajar. 

D. Komponen Produk SMP Terbuka Ujung Tanah
Sajian aspek produk/output pada hasil penelitian ini meliputi: (1) pencapaian hasil belajar peserta didik per TKB SMP Terbuka  Ujung Tanah; (2) dan jumlah kelulusan peserta didik SMP Terbuka Ujung Tanah dalam ujian nasional.
1.   Hasil Belajar Peserta Didik SMP Terbuka  Ujung Tanah
            Setiap  TKB  memiliki daftar pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tes akhir unit, tes akhir modul, dan tes akhir semester.  Dari hasil  evaluasi  menunjukkan  bahwa  pencapaian  hasil  belajar peserta didik dari tes.


2.        Nilai Rerata Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah untuk 10 Mata Pelajaran
Dari nilai rerata tes akhir semester genap, dibuat rerata untuk menghasilkan nilai rerata setiap TKB dari 10 mata pelajaran.  Tabel di bawah ini adalah nilai rerata tes akhir semester genap peserta didik dari kelas 1, 2 dan 3 dari 11 mata pelajaran di setiap TKB.
Tabel 12  Nilai Rerata Setiap TKB SMP Terbuka Ujung Tanah
TKB
Nilai Rerata 11 Mata Pelajaran
Jumlah
Rt
PAI
PKn
B.Ind
B.Ing
Mat
IPA
IPS
SBK
Penjas
TIK
M. LKL
Tbr
71.2
69.53
69.6
62.1
65.97
65.63
64.33
61.5
65.5
64.33
67.6
727.29
66
Capoa
71.7
61
69
62.3
52.75
68.75
62.65
70.45
64.65
62.65
66.6
712.5
65
Panpu
65.23
67.77
66.83
50
53.3
61.37
59.6
60.2
66.57
50
76.3
677.17
62
Totaka
62.77
63.5
64.63
50.5
51.17
61.2
57.63
58.8
63.47
50.5
72.7
656.87
60
Ujung Tanah
61.8
61.6
61.35
45.9
47.75
55.4
57.05
59.95
60.35
45.9
70
627.05
57

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik diTKB Tabaringan berada pada peringkat teratas dan TKB Ujung Tanah berada pada tingkat paling bawah.
 

BAB IV
Simpulan dan Rekomendasi
A.   Simpulan
1.    Dari faktor geografis-demografis, pelaksanan program kurang tepat karena lokasi tempat kegiatan belajar (TKB) tersebut  berada  dekat  dengan  sekolah-sekolah regular, dan  dapat ditempuh oleh peserta didik  dalam  waktu  yang tidak lama (1 sampai 2 jam) dengan ketersediaan sarana  transportasi  yang cukup seperti angkot atau kenderaan lainnya.
2.    Sedangkan secara sosial ekonomi, pelaksanan program pengelolaan rintisan SMP Terbuka  dibutuhkan oleh masyarakat di Kota Makassar sebagai pengganti SMP regular  bagi  sebagian warga masyarakat yang memiliki kehidupan sosial ekonomi yang tidak mapan sehingga tidak dapat  menyekolahkan anaknya di SMP regular.
3.    Belum tersedianyan perpustakaan dan laboratorium untuk masing-masing TKB.
4.    Evaluasi  proses tentang pelaksanaan tutorial pada  SMP Terbuka Ujung Tanah  rata-rata  kurang mencukupi.  
5.    Evaluasi produk/output mengenai pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh pada semua TKB melalui tes akhir semester masih kurang  baik.        
B.       Saran/Rekomendasi
1.    Disarankan kepada pihak pengelola SMP Terbuka agar pada saat rekruitmen/penentuan  guru  pamong dari masyarakat supaya lebih selektif dan  professional  agar  guru  pamong tersebut mempunyai waktu yang cukup dan serius dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik.
2.    Dilihat dari komponen proses, pelaksanaan tutorial SMP terbuka maka  program pengelolaan SMP  Terbuka di Makassar ini perlu perlu disempurnakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERBAGI DI

Ada kesalahan di dalam gadget ini