Minggu, 09 September 2012

PENYAJIAN MATRIKS


         A.           Membangun Penyajian Matriks
Tidak ada kaidah yang pasti untuk membuat sebuah matriks. Agaknya, konstruksi matriks merupakan suatu tugas kreatif – namun sistematis – yang meningkatkan pemahaman anda mengenai substansi dan makna data besar anda, bahkan sebelum anda mulai memasuki informasi. Jadi, persoalannya bukanlah apakah seseorang membangun matriks yang “benar” tetapi apakah matriks itu fungsional sehingga bisa member jawaban terhadap pertanyaan yang anda ajukan atau mendorong cara-cara baru yang mencari peluang untuk menata (lay out) data agar memperoleh jawaban.
Unsur-unsur  Matriks
1.    Tujuan deskritif dan tujuan eksplanatori.
2.    Data situs tunggal dan situs ganda.
3.    Aturan dan tak beraturan.
4.    Waktu beraturan dan tak beraturan.
5.    Kategori variabel.
6.    Dua-arah, tiga-arah, N-arah...
7.    Entri sel
Aturan umum konstuksi matriks
1. Taruhlah penyajian itu di atas kertas yang lebar.
2. Jangan coba untuk melibatkan lebih dari 15 – 20 variabel dalam baris atau kolom ; 5 – 6 variabel kiranya lebih baik.
3. Bersiaplah membuat format awal, dan ulangi beberapa kali sesudah memasukkan data.
4. Mintalah seorang sejawat untuk memeriksa format anda.
5. Apabila matriks itu merupakan matriks beraturan, bersiaplah untuk mengubah deret dan kolom untuk sementara
6. Ingatlah untuk mengelompokkan kembali matriks yang rumit yang berisi banyak baris dan kolom ke dalam “urut-urutan” atau “keluarga” terdekat.
7. Terbukalah selalu terhadap gagasan untuk menambahkan baris ataupun kolom baru
8. Jagalah agar baris dan kolom tertata cukup bagus
9. Ingat-ingatlah bahwa masalah penelitian terlalu mungkin menuntut adanya seperangkat matriks

TEKNIK ANALISIS DATA



Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola , menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain.
Analisis Data Kualitatif adalah suatu proses yang meliputi:
  • Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri,
  • Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksnya,
  • Berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola, hubungan-hubungan dan temuan-temuan umum. (Seiddel, 1998)
Jadi menurut kami, Analisis Data Kualitatif adalah suatu upaya kegiatan yang meliputi proses mencatat, mengorganisasikan, mengelompokkan dan mensintesiskan data selanjutnya memaknai setiap kategori data, mencari dan menemukan pola, hubungan- hubungan dan memaparkan temuan-temuan dalam bentuk deskripsi naratif, bagan, flow chart, matriks maupun gambar-gambar yang bisa dimengerti dan pahami oleh berbagai pihak.

Sabtu, 30 Juni 2012

Contoh Proposal Penelitian Evaluasi Program

Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda pada SMK 5 Makassar


I.               Pendahuluan
A.           Latar Belakang
Memasuki kerjasama ekonomi Negara-negara Asia Tenggara melalui Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) sejak tahun 2003 dan pasar bebas dunia tahun 2020 akan menimbulkan persaingan ketat baik barang jadi/komoditas maupun jasa. Ini berarti Indonesia harus meningkatkan daya saing baik mutu hasil produksi maupun jasa. Peningkatan daya saing ini dimulai dari penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang merupakan faktor keunggulan menghadapi persaingan dimaksud. Jika kita tidak bisa mengantisipasi persiapan SDM yang berkualitas antara lain, berpendidikan, memiliki keahlian dan keterampilan terutama bagi tenaga kerja dalam jumlah yang memadai, maka Indonesia akan menjadi korban perdagangan bebas. Oleh karena itu, negara kita perlu menyiapkan SDM pada tingkat menengah yang memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri atau dunia usaha. SDM dimaksud perlu dipersiapkan baik oleh pemerintah melalui DEPDIKNAS, DEPNAKER, dan/atau Departemen Perdagangan maupun oleh swasta melalui KADIN serta oleh masyarakat pengguna jasa.
Kepala Badan Pusat Statistik Jakarta menyatakan, bahwa Jumlah angkatan kerja yang menganggur hingga Februari 2005 mencapai10,9 juta orang. Tambahan pengangguran terjadi karena peningkatan angkatan kerja lebih besar daripada ketersediaan lapangan kerja. Jumlah angkatan kerja bertambah 1,8 juta orang yakni dari 104 juta orang pada Agustus 2004 sampai dengan Februari 2005 meningkat menjadi 105,8 juta orang (Maksum, 2005:1). Di Sulawesi Selatan pada akhir tahun 2002 dari sekitar 3,14 juta penduduk tercatat sekitar 0,12% juta orang (3,75%) adalah angkatan kerja sedang pencari pekerjaan sekitar 117.296 orang meningkat sebesar 35,71%. Hal ini menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan belum dapat menampung seluruh pencari kerja (Marsudi, dkk, 2008:1). Hal senada disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia (Yudhoyono, 2006:1), bahwa pemerintah juga menargetkan penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi jumlah tingkat pengangguran yang saat ini berkisar 10,24 persen dari total angkatan kerja. Oleh karena itu perlu ada reformasi dalam sistem pendidikan yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap kerja. Jika tidak, maka pendidikan hanya menghasilkan pengangguran baru yang tidak terserap di lapangan kerja.

Senin, 04 Juni 2012

Panduan Penulisan Tes Tertulis Implementasi Kurikulum 2004


     Bab 1    : Pendahuluan
Kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian merupakan tiga dimensi dan sekian banyak dimensi yang sangat penting dalam dikan. Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kurikulum merupakan penjabaran tujuan pendidikan yang menjadi landasan proses pembelajaran. Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian kurikulum. Penilaian juga digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada dalam proses pembelajaran, sehingga dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan, misalnya apakah proses pembelajaran sudah baik dan dapat dilanjutkan atau rnasih perlu perbaikan dan penyempurnaan. Oleh sebab itu, di samping kurikulum yang cocok dan proses pembelajaran yang benar, perlu ada sistem penilaian yang baik dan terencana.
Penilaian yang tepat bagi peserta didik tidak hanya menunjukkan perilaku peserta didik yang lengkap, tetapi juga perilaku Peserta didik yang hidup dan nyata yang sesuai dengan harapan orang tua. Kriteria perilaku yang signifikan dalam menulis bisa dipakai “locus of control” misalnya pada waktu peserta didik istirahat, penentuan topik, lokasi waktu, langkah, ujian, kegiatan portofolio, produk, projek dan kondisi lain yang menghasilkan sebuah tulisan. Penilaian berbasis kelas bertujuan untuk: (1) menjamin agar program pembelajaran tetap sesuai dengan kurikulum, (2) memeriksa kelemahan dan kelebihan yang dimiliki peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, (3) mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dalam proses pembelajaran, dan (4) nienyimpulkan apakah peserta didik telah mencapai seluruh atau sebagian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Paling tidak terdapat tiga sikap yang dapat digunakan dalam penilaian, yaitu: rasa percaya, lebih tertarik, dan keyakinan bahwa proses pembelajaran akan sukses. Selain itu, pengaruh sikap mental guru akan melahirkan kerangka kerja responsif dalam mengajar.

Jumat, 27 April 2012

STANDAR EVALUASI PROGRAM

Standar merupakan aspek penting dari setiap praktek evaluasi. Standar membantu memastikan bahwa evaluator dan klien mereka berkomunikasi secara efektif dan mencapai pemahaman, yang jelas saling mengenal kriteria yang harus dipenuhi oleh evaluasi. Standar tersebut diperlukan untuk meniadakan kemungkinan bahwa salah satu stakeholder atau evaluator melakukan kecurangan, mungkin membelokkan hasil evaluasi yang sesuai dengan diri mereka sendiri. Tanpa standar yang mendefinisikan layanan evaluatif, kredibilitas prosedur evaluasi, hasil, atau pelaporan yang tersisa akan diragukan. Untuk lebih berwibawa dan kredibel, standar evaluasi harus mencerminkan konsensus umum oleh tokoh-tokoh terkemuka di organisasi profesi yang bersangkutan
Evaluator telah membentuk prinsip-prinsip standar yang digunakan untuk membimbing dan menilai pekerjaan mereka, Selama dua dekade terakhir, profesionalisme evaluasi telah cukup diperkuat oleh pengembangan dan penggunaan standar evaluasi. Selama ini, standar profesional, diarahkan pada praktek melalui prinsip-prinsip yang disepakati, telah menjadi bagian integral dari desakan masyarakat luas pada kriteria dan langkah-langkah untuk menjamin kualitas dan akuntabilitas evaluasi.
Ada beberapa standar yang digunakan Standar Evaluasi Program  yang dikembangkan oleh Badan Komite Bersama.  Standar Evaluasi pendidikan dan diakreditasi oleh Institut Standar Nasional Amerika; Panduan Prinsip-prinsip bagi Evaluator yang dikembangkan dan secara resmi disahkan oleh Asosiasi Evaluasi Amerika dan Komite Etik, Standar Audit Pemerintah yang dikembangkan oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS dan diperlukan  dalam Audit Program Pemerintah AS.
Komite Bersama (1994) mendefenisikan standar evaluasi sebagai “Prinsip yang disepakati bersama oleh orang yang terlibat dalam profesi evaluasi, dalam rangka meningkatkan kualitas dan keadilan evaluasi”. Satuan Tugas AEA mencatat bahwa prinsip evaluasi disediakan oleh evaluator dengan panduan yang bersifat umum, konseptual bukan operasional. Kantor Akuntabilitas pemerintah menggambarkan standar audit sebagai pernyataan pertanggung jawaban dari seorang auditor. Pada dasarnya, ketiga dokumen membuat prinsip umum, yang merupakan hal yang penting. Untuk membantu komunikasi, akan dibahas tentang standar evaluasi berdasarkan Standar Evaluasi Program, Pengembangan Prinsip Evaluasi AEA, dan Standar Audit Pemerintah. Ketiga  otoritas dokumen  memberikan arahan untuk membimbing dan mengarahkan studi program evaluasi.