Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Pesan Guruku

“Setiap manusia adalah guru, setiap tempat adalah madrasah, dan setiap peristiwa adalah pembelajaran” (Ali Syariati)

Tak terasa sudah 21 tahun aku mengenyam dunia pendidikan formal, 9 tahun di kampung, selebihnya di “Kota Daeng” hingga sekarang. Jenjang pendidikan formal sudah kulewati, kecuali TK atau PAUD. Mungkin karena tidak pernah jadi murid TK dan PAUD, aku tidak tahu menyanyi atau menggambar binatang, hanya menggambar jaringan instalasi listrik dan jalur elektronika di PCB yang aku bisa. Peralihan jenjang itu tentunya menyisakan kisah-kisah yang begitu cemerlang, bukan berarti tidak ada cerita suram di dalamnya. Ada, tapi ingatanku sekarang tidak bisa merabanya terlalu sensitif.

Setiap jenjang punya cerita, ibarat pepatah “lain lubuk, lain ikannya”. Kali ini aku hanya ingin berbagi pesan dari sekian banyak orang yang kuanggap guru, entah guru secara formal seperti yang ada didefenisi UU Guru dan Dosen, ataupun guru informal sebagaimana defenisiku sendiri, seperti kata Ali Syariati “Setiap Orang adalah guru”. Semua guru yang telah memberi kesan mendalam sampai saat ini masih aku ingat.

Rabu, 10 Oktober 2012

Sidang Para Setan


Tepat pukul 00.00 dini hari. Angin laut berkelebat dengan begitu kencangnya. Pohon-pohon, daunnya nampak meringkik setelah embunnya menebal. Rembulan yang sejak tadi main petak umpet bersama bumi dibalik awan-awan hitam yang bergumpal, kali ini benar-benar menyelinap sunyi lama sekali. Udara berdesir seratus kali melebihi desisan ular kobra. Hari ini memang sudah diperhitungkan oleh para setan, bahwa semua manusia akan tertidur nyenyak dengan sendirinya tanpa sirep.
Nampak bergegas jutaan setan berduyun-duyun menuju astaka lengkap dengan anak keturunan. Mereka datang dari semua utusan pelosok propinsi, kabupaten, kota bahkan desa-desa. Semuanya merengsek ke Ibukota. Ruangan tempat sidang pun dibuat sangat terbuka nyaris seperti panggung raksasa yang membelah istana. Buyut –kakek-nenek – bapak-ibu-anak -cucu –cucut sampai cicit – nyaris tak ada yang ketinggalan. Masing-masing membawa segelas darah segar sebagai syarat pemberkatan berikutnya.
Malam yang sangat gelap dan teramat senyap keramat. Pertanda sidang para setan bisa dimulai.“Dini hari ini, apakah kalian sudah bisa bertanggung jawab memastikan bahwa tidak akan ada satu pun manusia yang akan bangun sholat Tahajud” kata pimpinan sidang sebelum sidang dimulai.“Kami jamin pimpinan sidang….”Serentak mereka menjawab dengan menundukkan anggota badannya sebagai tanda kesetiaan dan pengabdian total atas titah pimpinan.“Semua jam beker yang mereka pasang sudah saya off-kan tuan, bahkan di kedua telinganya sudah saya tulikan, agar tidurnya nyenyak, saya juga sudah buatkan bunga-bunga mimpi dalam tidur mereka sehingga perasaan mereka seakan-akan sudah sholat” salah satu dari setan itu memberikan penjelasan.“Baiklah, artinya…, apakah sidang akbar ini bisa dimulai?”“Siap tuan” jawab mereka serentak.“Dari absent yang kami terima, saya berterima kasih sekali bahwa kalian semua bisa hadir. Dan saya sudah membaca prestasi kalian.

Kamis, 20 September 2012

Konstruktivisme Dalam Pembelajaran

A. Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:

Jumat, 30 Maret 2012

ANARKISME BUKAN KEKERASAN

Tulisan ini saya buat dilatar belakangi keresahan intelektual. Kesadaran akan kesalahan paradigmatik yang berujung pada dikotomi makna, distorsi nilai bahkan reduksi hakikat yang sebenarnya menjadi-jadi. Anarkis dipersepsikan sama dengan kekerasan, bahkan kata-kata "kekerasan" diganti dengan kata "anarkis". Lihat saja, setiap ada demonstrasi atau aksi terhadap reaksi ataupun stimulus dari suatu respon yang berlebihan selalu dimaknai dengan "anarkis", padahal kekerasan tidak mempunyai aturan nilai bahkan tidak ada semacam filosofis yang dikandungnya. Hal ini berbanding terbalik dengan "anarkis", anarkis merupakan seperangkat ide-ide yang mempunyai kekuatan filosofis. Tulisan ini saya maksudkan agar jangan lagi ada kesalahan persepsi akan kesamaan anarkis dengan kekerasan.
A. Pengertian Anarkis
     Anarkisme merupakan kata dasar anarki yang diakhiri dengan isme. Kata anarki adalah tiruan kata asing seperti anarchy (Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang juga cuma meniru kata Yunani anarchos/anarchia. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan). Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan (without rulers). Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Sedangkan isme sendiri berarti faham/ajaran/ideologi.

Selasa, 27 Maret 2012

TEORI PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF (beberapa kesimpulan)

Teori Piaget adalah kisah terpadu yang menjelaskan bagaiman faktor biologis dan pengalaman membentuk perkembangan kognitif. Piaget berpikir sebagaimana tubuh fisik kita memiliki struktur yang memampukan kita beradaptasi dengan dunia. Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka sendiri , informasi dari lingkungan tidak begitu saja dituangkan ke dalam pikiran pikiran mereka.
Proses-proses Perkembangan
Piaget yakin bahwa proses-proses penting tersebut meliputi:
1. Skema
Dalam teori Piaget, aksi atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Skema bayi disusun oleh tindakan sederhana yang diterapkan pada objek-objek tertentu, contohnya tindakan menyusu, melihat, menggenggam. Anak-anak yang lebih tua memiliki skema yang meliputi berbagai strategi dan perencanaan untuk mengatasi masalah. Saat mencapai masa dewasa, menyusun beragam skema dalam jumlah amat besar.
2. Asimilasi
Asimilasi terjadi ketika anak-anak memasukkan informasi baru ke dalam skema-skema yang ada.
3. Akomodasi
Akomodasi terjadi ketika anak-anak menyesuaikan skema-skema mereka dengan informasi dan pengalaman-pengalaman baru.
4. Organisasi
Adalah pengelompokan perilaku-perilaku dan pemikiran-pemikiran yang terisolasi ke dalam sistem yang lebih teratur dan lebih tinggi.
5. Penyeimbangan
Adalah suatu mekanisme yang diajukan Piaget untuk bagaimana anak-anak berpindah dari suatu tahapan pemikiran ke tahapan pemikiran berikutnya. Perpindahan ini terjadi karena anak mengalami konflik kognitif kognitif dalam usahanya memahami dunia sampai akhirnya dapat menyelesaikan konflik tersebut dan mencapai suatu keseimbangan pemikiran.

Teori Piaget tentang Perkembangan Intelektual Anak


Teori Piaget tidak berpengaruh pada pendidikan Amerika. Pekerjaan awalnya dalam biologi, bukan psikologi atau pendidikan, dan tulisannya harus diterjemahkan dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Inggris. Dia bahkan tidak tertarik di bidang pendidikan, tapi malah tertarik pada epistemologi genetik, atau studi tentang perkembangan pengetahuan pada manusia. Awalnya ia membentuk teori dengan mengamati anak-anaknya sendiri. Penelitiannya dengan menggunakan metode intensif yang mengamati sejumlah kecil subyek dan sangat berbeda dari tradisi behavioris yang begitu dominan di Amerika Serikat pada waktu itu, dan sebagai hasilnya butuh waktu untuk karyanya untuk dapat diterima. Sebagai penelitian tambahan telah diverifikasi dan memperluas temuan Namun, karyanya memiliki dampak yang sangat penting terhadap teori perkembangan dan belajar.

Senin, 26 Maret 2012

REVITALISASI GERAK PERJUANGAN MAHASISWA MELAWAN KAPITALSME NEOLIBERAL *


                                                                         Oleh : Abdul Zahir**
A. Realitas Kapitalisme Neoliberal
Akhir-akhir ini, neoliberalisme banyak diperbincangkan orang. Berbagai jenis tulisan dari berbagai sudut pandang telah diterbitkan untuk mengulasnya. Ada penulis yang membahas pengaruhnya terhadap ekonomi (perdagangan bebas dan ketimpangan ekonomi berskala dunia), politik (soal hapusnya negara-bangsa dan kedaulatan korporasi), budaya (penghancuran budaya dan bahasa setempat), lingkungan (pemanasan global) dan juga filosofis (gagasan tentang manusia individualistik dan hubungan antarmanusianya). Di lihat dari keanekaragaman cara mengupas neoliberalisme menunjukkan bahwa ia telah memasuki semua kamar dan meniduri ranjang yang berbeda. Roh neoliberalisme adalah satu, namun wujudnya banyak.
Dikaitkan dengan sistem ekonomi kapitalisme, neoliberalisme bisa kita tempatkan sebagai sebentuk ideologi atau seperangkat gagasan yang diyakini, baik secara sadar atupun tidak. Sebagai ideologi, neoliberalisme mempengaruhi cara berpikir dan cara bertindak mereka yang berada di bawah pengaruhnya. Seperti halnya semua ideologi, neoliberalisme mewujud ke dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk ‘teori’ yang menjelaskan gejala dan hubungan antargejala serta bagaimana menjawab persoalan dari gejala-gejala kehidupan manusia tersebut. Seperti juga semua ideologi, neoliberalisme tidaklah muncul begitu saja dari ruang kosong. Tunas-tunasnya tumbuh dari tanah subur kapitalisme lanjut; di atas humus kapitalisme yang menua.
                 
Seperti semua hal yang ada di kolong langit, sistem ekonomi kapitalisme selalu berubah. Tampilan kapitalisme hari ini sangat berbeda dari kapitalisme di masa Marx. Ketika Marx menulis The Communist Manifesto (1848), kapitalisme benar-benar hanya berlangsung sepenuhnya di beberapa tempat saja di Eropa bagian barat dan Inggris. Sekarang ia menjadi sistem yang ada di mana-mana. Pada dasawarsa 1840-an, satuan produksi kapitalis sekadar pabrik kecil dengan buruh yang tidak mencapai seratus dan dimiliki serta dimanajeri seorang atau sekeluarga kapitalis. Bila dulu sebagian besar kapitalis beroperasi di negerinya sendiri, kini kompeni multinasional bisa menempatkan pusat-pusat produksinya di mana pun di dunia selama bisa dilakukan dan menguntungkan.

Kepemimpinan Kaum Muda; Sebuah Ikhtiar Menuju Kebangkitan Nasional*


                                                    Oleh : Abdul Zahir**
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh !!!!!!
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang menegakkan langit, yang menghamparkan lautan dan daratan, yang meninggikan gunung-gunung, dan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dari-Nya mengalir segala kurnia, nikmat dan anugrah yang tak bisa dikira dengan tinta di atas lembaran-lembaran cerita-cerita, yang tak bisa di ukur dengan neraca apapun.
Salam sejahtera untuk Muhammad Saw, Sang Penabur cinta dan kasih sayang. Dialah uswah dari segala tokoh, Dialah pahlawan sejati dari segala pejuang. Dengannya, terulur segala kebaikan dari Maroko ke Marauke, dari negeri Magdhubi sampai negeri Maghribi, di segenap negeri, di seluruh jazirah, dan digenapnya dunia.
A.          Mukaddimah
Perkembangan dunia akhir-akhir ini semakin carut marut. Seluruh Negara menikmati situasi seperti ini. Aspek-aspek kehidupan yang telah digerogoti neoliberalisme seakan tak lama lagi akan ambruk. Gambaran dunia semakin lama mengabur seiring dengan krisis dan tendensi yang terjadi dimana-mana.
Dimulai dari aspek keamanan, penyerangan Rusia terhadap Georgia diakhir bulan Juli lalu menandakan bahwa ada upaya agresi yang akan dibangun secara besar oleh Negara yang mengaku dirinya sebagai Adikuasa. Dengan mengungkit masalah perbatasan di sebuah Negara bagian, dengan ikhlas hati Rusia menyerang Georgia yang secara geopolitis lebih berpihak ke Amerika Serikat.

Rabu, 07 Maret 2012

DASAR-DASAR PENGETAHUAN


A.     PENGETAHUAN
Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia.
Suatu hal yang menjadi pengetahuan selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahui. Karena itu pengetahuan menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya.
Burhanuddin Salam mengklasifikasikan bahwa pengetahuan yang diperoleh manusia dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1. Pengetahuan biasa (common sense) yaitu pengetahuan biasa, atau dapat kita pahami bahwa pengetahuan ini adalah pengetahuan yang karena seseorang memiliki sesuatau karena menerima secara baik. Orang menyebut sesuatu itu merah karen memang merah, orang menyebut benda itu panas karena memang benda itu panas dan seterusnya.
2. Pengetahuan Ilmu (science) yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat kuantitatif dan objektif, seperti ilmu alam dan sebagainya.
3. Pengetahuan Filsafat, yakni ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.
4. Pengetahuan Agama, yaitu pengetahuan yang hanya didapat dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama.
Jadi perbedaan antara pengetahuan dan ilmu adalah jika pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu manusia untuk memahami suatu objek tertentu, sedangkan ilmu (science) adalah pengetahuan yang bersifat positif dan sistematis.

Pengantar Teori kebenaran

       Hal kebenaran sesungguhnya memang merupakan tema sentral dalam filsafat ilmu. Problematik mengenai kebenaran, sebenarnya seperti halnya problematik tentang pengetahuan, merupakan masalah-masalah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya dalam filsafat ilmu.
       Cara penemuan kebenaran berbeda-beda, kebenaran dapat dilihat secara ilmiah dan non ilmiah. Menurut hartono kasmadi dkk (1960) adalah sebagai berikut.
1.      Penemuan secara kebetulan, adalah penemuan yang berlangsung secara tanpa disengaja.
2.     Penemuan coba dan ralat ( trial dan error), terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari.
3.    Penemuan melalui otoritas atau kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapatnya tidak di dasarkan pada pembuktian ilmiah.
4.    Penemuan secara spekulatif, cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaannya dengan coba dan ralat memang ada.
5.  Penemuan kebenaran lewat cara berpikir, kritis dan rasional. Cara berpikir yang di tempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adlah dengan cara berpikir analitis dan sintetis.
6. Penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah, cara mencari kebenaran yang di pandang ilmiah adalah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adlah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam teraf keilmuan. 

Metode Filsafat


Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan defenisi dari para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adlah sebagai berikut:
1.      Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2.      Metode Intuitif : Plotinus dan bergson
Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3.      Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.
Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4.      Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5.      Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.
6.      Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori  bagi pengertian demikian.
7.      Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala.  Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a.   Reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b.      Reduksi eidetis.
c.       Reduksi transendental
8.      Metode Dialektis : Hegel dan Mark
Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).
9.      Metode Non-positivistis
Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10.  Metode analitika bahasa : Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.