Senin, 24 September 2012

KODE ETIK PENYELENGGARA PROGRAM

     Sudah menjadi kepatutan bahwa setiap profesi, punya kode etik yang sifatnya melekat pada setiap individu maupun organisasi. Bersifat melekat berarti keber-makna-an dan keber-ada-an sebuah standar yang paten harus dimiliki setiap individu dalam menjalankan profesi yang digelutinya. Keber-makna-an dalam hal ini didasarkan atas kerja-kerja profesionalitas dan keber-ada-an berarti kesanggupan dalam memegang sebuah "nilai" yang mengikat.
    Semua profesi (bukan pekerjaan,karena profesi dan pekerjaan sesuatu yang berbeda dalam hal pemaknaan dan kekuatan hukum) tentu memiliki "Kode Etik" sebagai patron dalam menjalankan kerja-kinerja profesionalitas. Bukan hanya Guru atau pendidik ataupun dokter yang punya kode etik, penyelenggara program pun sejogyanya memiliki kode etik, hal ini bisa diartikan sebagai "way of life" ataupun sistem nilai yang mesti dipegang.
        Dalam  kesempatan ini, akan diberikan gambaran yang jelas tentang kode etik penyelenggara pelayanan publik, dan ini berarti, penyelenggara program sebagai  penyelenggara pelayanan publik mesti terinternalisasi dalam setiap individu.
        Rasionalisasi pentingnya kode etik dipegang oleh penyelenggara program didasarkan pada:
  • Perlunya kerja profesional, terarah dan terukur sehingga tercapai target program
  • Perbedaan jenjang pendidikan, kemampuan dan latar belakang pendidikan
  • Perlunya satu langkah gerak yang sinkron dan sinergi dalam terciptanya perluasan akses, peningkatan mutu, dan manajemen  

Kamis, 20 September 2012

Konstruktivisme Dalam Pembelajaran

A. Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:

Minggu, 09 September 2012

CONTOH ANALISIS PSIKOLOGIS RPP


ANALISIS RPP
DITINJAU DARI SUDUT PANDANG PSIKOLOGIS

A.           Pengantar Psikologi Pendidikan
Oleh karena pengajaran bersifat kompleks dan adanya variasi individu diantara siswa-siswa, maka pengajaran yang efektif bukanlah ‘satu hal yang cocok untuk semua orang’(Diaz,1997). Para guru juga harus menguasai berbagai perspektif dan strategi, serta fleksibel dalam menerapkannya. Kunci utama agar dapat menguasai hal tersebut adalah: 1). keterampilan dan pengetahuan profesional, serta 2). komitmen dan motivasi.
Guru-guru yang rang efektif mempunyai arahan yang baik pada tiap materi pengajaran yang diajarkan dan memiliki keterampilan dasar mengajar yang kuat. Mereka mempunyai strategi pengajaran yang sangat baik dan didukung oleh metode penentuan tujuan,perencanaan pengajaran, dan pengaturan kelas (class management). Mereka mengetahui cara memotivasi, berkomunikasi, dan bekerja secara efektif dengan siswa-siswa yang mempunyai tingkat keterampilan berbeda dan berasal dan latar belakang budaya yangberbeda pula. Guru-guru yang efektif juga mengerti cara untuk menggunakan tingkat teknologi yang tepat di kelas.
Karakterisik guru yang semakin sering disebut-sebut keinginan para siswa SMP adalah “pengetahuan sang guru tentang mata pelajaran mereka” (NASSP, 1997). Memiliki pemahaman akan konsep yang baik, fleksibel, dan mendalam tentang materi pelajaran adalah hal yang sangat diperlukan untuk menjadi seorang guru yang efektif. Tentu saja, pengetahuan akan materi pelajaran mencakup lebih dari sekadar fakta, istilah, dan konsep umum. Pengetahuan tersebut juga meliputi pengetahuan tentang pengaturan ide, hubungan antar ide, cara berpikir dan berpendapat, pola perubahan di dalam satu bidang ilmu, keyakinan tentang suatu ilmu, serta kemampuan untuk mencarikan ide-ide dan suatu bidang ilmu dengan bidang ilmu lainnya. Sekarang sudah jelas bahwa kemampuan memiliki pemahaman yang mendalarn tentang mata pelajaran tersebut merupakan aspek penting yang menjadikan seorang guru sebagai guru yang kompeten (Ellis, 2007; Peters & 5. 2006; dan Van de Walle, 2007).
Pada tingkatan yang lebih luas, ada dua pendekatan utama yang menggolongkan cara guru mengajar: pembelajaran konstruktif dan pembelajaran secara langsung. Pendekatan konstruktif merupakan pusat dari filosofi pendidikan William James dan John Dewey. Pendekatan pembelajaran langsung hampir serupa dengan pandangan E. L. Thorndike.
Pendekatan para konstrukktif (constructivist approach) adalah pendekatan berpusat pada pembelajar (learner-centered) yang menekankan pentingnya para individu membangun pengetahuan dan pemahaman secara aktif melalui bimbingan dari guru. Dalam pandangan para guru yang konstruktif, guru seharusnya tidak hanya berusaha melimpahkan informasi ke pikiran anak-anak. Lebih dari itu, anak-anak harus didorong untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, menggambarkan, dan berpikir secara kritis dengan bimbingan yang berarti dan pengawasan yang saksama dari guru (Eby, Herrell, & Jordan, 2006; Halpern, 2006; Kafai, 2006). Para guru pembelajarannya konstruktif berargumen bahwa anak-anak telah terlalu lama diminta untuk duduk diam, menjadi pendengar pasif, dan menghafalkan informasi yang relevan dan tidak relevan (Henson, 2004; Silberman, 2006).

PENYAJIAN MATRIKS


         A.           Membangun Penyajian Matriks
Tidak ada kaidah yang pasti untuk membuat sebuah matriks. Agaknya, konstruksi matriks merupakan suatu tugas kreatif – namun sistematis – yang meningkatkan pemahaman anda mengenai substansi dan makna data besar anda, bahkan sebelum anda mulai memasuki informasi. Jadi, persoalannya bukanlah apakah seseorang membangun matriks yang “benar” tetapi apakah matriks itu fungsional sehingga bisa member jawaban terhadap pertanyaan yang anda ajukan atau mendorong cara-cara baru yang mencari peluang untuk menata (lay out) data agar memperoleh jawaban.
Unsur-unsur  Matriks
1.    Tujuan deskritif dan tujuan eksplanatori.
2.    Data situs tunggal dan situs ganda.
3.    Aturan dan tak beraturan.
4.    Waktu beraturan dan tak beraturan.
5.    Kategori variabel.
6.    Dua-arah, tiga-arah, N-arah...
7.    Entri sel
Aturan umum konstuksi matriks
1. Taruhlah penyajian itu di atas kertas yang lebar.
2. Jangan coba untuk melibatkan lebih dari 15 – 20 variabel dalam baris atau kolom ; 5 – 6 variabel kiranya lebih baik.
3. Bersiaplah membuat format awal, dan ulangi beberapa kali sesudah memasukkan data.
4. Mintalah seorang sejawat untuk memeriksa format anda.
5. Apabila matriks itu merupakan matriks beraturan, bersiaplah untuk mengubah deret dan kolom untuk sementara
6. Ingatlah untuk mengelompokkan kembali matriks yang rumit yang berisi banyak baris dan kolom ke dalam “urut-urutan” atau “keluarga” terdekat.
7. Terbukalah selalu terhadap gagasan untuk menambahkan baris ataupun kolom baru
8. Jagalah agar baris dan kolom tertata cukup bagus
9. Ingat-ingatlah bahwa masalah penelitian terlalu mungkin menuntut adanya seperangkat matriks

TEKNIK ANALISIS DATA



Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola , menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain.
Analisis Data Kualitatif adalah suatu proses yang meliputi:
  • Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri,
  • Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksnya,
  • Berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola, hubungan-hubungan dan temuan-temuan umum. (Seiddel, 1998)
Jadi menurut kami, Analisis Data Kualitatif adalah suatu upaya kegiatan yang meliputi proses mencatat, mengorganisasikan, mengelompokkan dan mensintesiskan data selanjutnya memaknai setiap kategori data, mencari dan menemukan pola, hubungan- hubungan dan memaparkan temuan-temuan dalam bentuk deskripsi naratif, bagan, flow chart, matriks maupun gambar-gambar yang bisa dimengerti dan pahami oleh berbagai pihak.