Senin, 18 Maret 2013

Moral Tersungkur Mati

Moral tersungkur mati
Karena hidup ini seperti fatamorgana
Baik pun akan melahirkan aib dan cela
Salah pun berujung puji

Moral telah tersungkur mati
Nabi tergantikan selebriti
Kitab suci berdebu di lemari
Tiada lagi pesan para wali

Moral tersungkur mati
Pada insani yang memperebutkan kursi
Kawan dan lawan tak ada dalam kamus peduli
Kepentingan menjadi raja setiap hari

Moral tersungkur mati
Sahabat, saudara ataupun seluruh famili
Terlupkan demi gengsi
Raja itu bernama harga diri
Tapi ambigu dalam menetapkan nilai

Moral tersungkur mati
Pada Tuhannya pun tak sudi mengabdi
Pongah membanggakan diri
Dikira surga bisa dibeli

Ketika moral tersungkur mati
Kemanakah kita akan pergi?
                                                                                                      FAM1610M Makassar

Sekolah Itu Apa?

Nak, kamu harus sekolah setinggi-tingginya
Masa depan akan kamu genggam dengan cerah
Engkau akan mudah mendapatkan pekerjaan
Kamu bisa merebut tahta dan kuasa
Wanita cantik tinggal kamu pilih
Kamu harus cerdas ya!

Keluarga dan lingkungan mengajarkan ku angan-angan
Keluarga dan lingkungan mengajarkan ku impian-impian
Lalu sekolah itu apa?
Sekedar menjejaki SD SMP SMA hingga sarjana?

Sekolah itu apa?
Serupa kandang di dalamnya berisi binatang yang disuruh antri?
Atau Green House yang dihuni tumbuhan?
Atau yang bagaimanakah?

Sekolah itu tak lain hanya tempat mengeja aksara
Ruang menghitung angka-angka
Buku-buku hanya dogma
Ucapan guru-guru sekedar retorika

Sabtu, 16 Maret 2013

Rahasia Kecilku…

Aku lahir di bumi yang penuh misteri
Aku lahir tunggal
Mengada kemudian tanggal
Hingga aku sendiri tertinggal
Terhempas dari sesuatu yang mesti

Rahasia kecilku…
Serupa anak yang suka bermanja
Tak mirip tua yang nyaman bernostalgia
Tak punya apa selain canda dan tawa
Aku ganjil
Merasa ada yang janggal
Mungkin karena jiwa yang sangat dangkal

Rahasia kecilku…
Aku hanya anak kecil yang suka hujan
Tanpa payung setia berjalan
Berlari menapaki titian ataupun pematang
Gampang seperti menggenggam tangan
Seperti senja yang akan segera datang

Rahasia kecilku…
Tiada lelah ke sekolah
Pagi selalu ada uang receh
Cukup membeli tiga butir kelereng
Bahkan bisa seikat karet gelang
Semuanya bisa kupakai bermain di sore hari
Tak lupa setelah mengaji

Rahasia kecilku…
Aku ingin memberimu tanda
Agar engkau tetap waspada
Hingga lutut dan sikutmu tak berdarah
Ketika engkau terjatuh
Ketika engkau tak punya nama

Minggu, 10 Maret 2013

Angan-angan Senja


Senja datang menjelang, menjadi garis pemisah sore dan malam. Indah memang, tapi nuansa itu tak menyisakan berkas di hati. Siluet jingga itu memburam dalam nanar netraku. Tak kutemukan indah. Rasa ini sudah bertahun-tahun meraja dalam singgasana hatiku. Pedih melepaskannya. Dian Sastro telah berlalu dariku, jalinan cerita yang pernah kami rangkai,putus. Berderai. Berserakan tak menyisakan sebutir zarrah kedamaian. Kepergian Dian Sastro telah memasung jiwaku, memenjarakanku dalam bui nestapa. Ah...., pahit.

Masa depan serupa permata, cahaya berkilau merasuki angan-anganku. Pendarnya pun kemilau dan silaukan hidupku. Sadar akan kehilangannya, memberiku cemeti. mencambukku untuk membangun kembali puing-puing harapan. Aku kembali tegak, serupa Monas yang akan jadi saksi ikrar Anas Urbaningrum. Bawahnya kokoh, atasnya cemerlang bak emas pelambang cinta yang murni.

Aku gempita, ibarat adzan maghrib yang akan segera melantun, merasuki nala-nalar sadar para insani,syahdu. Aku diperhadapkan dalam sebuah pilihan yang berat dan aku pun terjebak. Oki Setiana Dewi atau Fatin Shidqia telah menjadi pelipur laraku. Aku berat memilih, karena kedua bunga ini telah bermahkota di taman hatiku

Jumat, 01 Februari 2013

Tondongku...



Entah darimana aku harus memulai
Sejarahmu tak begitu menarik lagi untuk dibagi
Apalagi tak ada piranti yang bisa jadi prasasti
Berlalu begitu saja tanpa pesan yang berarti

Dua puluh tujuh raja telah bertahta
I Kahireng Towa Labasa pendahulu cerita
Karaeng Gendamenutup segala berita
Kini tak ada lagi singgasana bahkan arti mahkota
Kerajaan atas namamu sudah tiada, menyisakan sedikit derita

Tondongku...
Derapmu menegakkan manifestasi Sinjai
Bersama Bulo-bulo dan Lamatti
Terikat utuh dalam Tellulimpoenan berdikari
Warani, getteng, siri' na lempu menjadi jiwa-jiwa yang begitu terpateri
Tak ada cela dan celah untuk tidak mengagumi
Riuh-riuh puji selalu ada dari wija-wijamu yang setia mengakui

Tondongku...
Walau nama besarmu tak sebesar Gowa-Tallo
Walau namamu tak semegah Luwu dan Wajo
Tetap engkau berarti bagiku dan dijalanku, jejakmu kokoh

Tondongku...
Ku harap kelak ada drama yang mengkisahkanmu
Atau sinarmu bisa seperti cerita babad jawa yang seru
Kalau tak bisa, setidaknya nusantara sudah mengenalmu


*** catatan: Tondong merupakan salah satu kerajaan yang ada di Kab. Sinjai Provinsi SUL-SEL, bersama kerajaan Bulo-bulo dan Lamatti yang menghimpun dalam simpul Kerajaan TelluLimpoe.