Jumat, 27 April 2012

STANDAR EVALUASI PROGRAM

Standar merupakan aspek penting dari setiap praktek evaluasi. Standar membantu memastikan bahwa evaluator dan klien mereka berkomunikasi secara efektif dan mencapai pemahaman, yang jelas saling mengenal kriteria yang harus dipenuhi oleh evaluasi. Standar tersebut diperlukan untuk meniadakan kemungkinan bahwa salah satu stakeholder atau evaluator melakukan kecurangan, mungkin membelokkan hasil evaluasi yang sesuai dengan diri mereka sendiri. Tanpa standar yang mendefinisikan layanan evaluatif, kredibilitas prosedur evaluasi, hasil, atau pelaporan yang tersisa akan diragukan. Untuk lebih berwibawa dan kredibel, standar evaluasi harus mencerminkan konsensus umum oleh tokoh-tokoh terkemuka di organisasi profesi yang bersangkutan
Evaluator telah membentuk prinsip-prinsip standar yang digunakan untuk membimbing dan menilai pekerjaan mereka, Selama dua dekade terakhir, profesionalisme evaluasi telah cukup diperkuat oleh pengembangan dan penggunaan standar evaluasi. Selama ini, standar profesional, diarahkan pada praktek melalui prinsip-prinsip yang disepakati, telah menjadi bagian integral dari desakan masyarakat luas pada kriteria dan langkah-langkah untuk menjamin kualitas dan akuntabilitas evaluasi.
Ada beberapa standar yang digunakan Standar Evaluasi Program  yang dikembangkan oleh Badan Komite Bersama.  Standar Evaluasi pendidikan dan diakreditasi oleh Institut Standar Nasional Amerika; Panduan Prinsip-prinsip bagi Evaluator yang dikembangkan dan secara resmi disahkan oleh Asosiasi Evaluasi Amerika dan Komite Etik, Standar Audit Pemerintah yang dikembangkan oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS dan diperlukan  dalam Audit Program Pemerintah AS.
Komite Bersama (1994) mendefenisikan standar evaluasi sebagai “Prinsip yang disepakati bersama oleh orang yang terlibat dalam profesi evaluasi, dalam rangka meningkatkan kualitas dan keadilan evaluasi”. Satuan Tugas AEA mencatat bahwa prinsip evaluasi disediakan oleh evaluator dengan panduan yang bersifat umum, konseptual bukan operasional. Kantor Akuntabilitas pemerintah menggambarkan standar audit sebagai pernyataan pertanggung jawaban dari seorang auditor. Pada dasarnya, ketiga dokumen membuat prinsip umum, yang merupakan hal yang penting. Untuk membantu komunikasi, akan dibahas tentang standar evaluasi berdasarkan Standar Evaluasi Program, Pengembangan Prinsip Evaluasi AEA, dan Standar Audit Pemerintah. Ketiga  otoritas dokumen  memberikan arahan untuk membimbing dan mengarahkan studi program evaluasi.

Jumat, 30 Maret 2012

ANARKISME BUKAN KEKERASAN

Tulisan ini saya buat dilatar belakangi keresahan intelektual. Kesadaran akan kesalahan paradigmatik yang berujung pada dikotomi makna, distorsi nilai bahkan reduksi hakikat yang sebenarnya menjadi-jadi. Anarkis dipersepsikan sama dengan kekerasan, bahkan kata-kata "kekerasan" diganti dengan kata "anarkis". Lihat saja, setiap ada demonstrasi atau aksi terhadap reaksi ataupun stimulus dari suatu respon yang berlebihan selalu dimaknai dengan "anarkis", padahal kekerasan tidak mempunyai aturan nilai bahkan tidak ada semacam filosofis yang dikandungnya. Hal ini berbanding terbalik dengan "anarkis", anarkis merupakan seperangkat ide-ide yang mempunyai kekuatan filosofis. Tulisan ini saya maksudkan agar jangan lagi ada kesalahan persepsi akan kesamaan anarkis dengan kekerasan.
A. Pengertian Anarkis
     Anarkisme merupakan kata dasar anarki yang diakhiri dengan isme. Kata anarki adalah tiruan kata asing seperti anarchy (Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang juga cuma meniru kata Yunani anarchos/anarchia. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan). Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan (without rulers). Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Sedangkan isme sendiri berarti faham/ajaran/ideologi.

Selasa, 27 Maret 2012

TEORI PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF (beberapa kesimpulan)

Teori Piaget adalah kisah terpadu yang menjelaskan bagaiman faktor biologis dan pengalaman membentuk perkembangan kognitif. Piaget berpikir sebagaimana tubuh fisik kita memiliki struktur yang memampukan kita beradaptasi dengan dunia. Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka sendiri , informasi dari lingkungan tidak begitu saja dituangkan ke dalam pikiran pikiran mereka.
Proses-proses Perkembangan
Piaget yakin bahwa proses-proses penting tersebut meliputi:
1. Skema
Dalam teori Piaget, aksi atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Skema bayi disusun oleh tindakan sederhana yang diterapkan pada objek-objek tertentu, contohnya tindakan menyusu, melihat, menggenggam. Anak-anak yang lebih tua memiliki skema yang meliputi berbagai strategi dan perencanaan untuk mengatasi masalah. Saat mencapai masa dewasa, menyusun beragam skema dalam jumlah amat besar.
2. Asimilasi
Asimilasi terjadi ketika anak-anak memasukkan informasi baru ke dalam skema-skema yang ada.
3. Akomodasi
Akomodasi terjadi ketika anak-anak menyesuaikan skema-skema mereka dengan informasi dan pengalaman-pengalaman baru.
4. Organisasi
Adalah pengelompokan perilaku-perilaku dan pemikiran-pemikiran yang terisolasi ke dalam sistem yang lebih teratur dan lebih tinggi.
5. Penyeimbangan
Adalah suatu mekanisme yang diajukan Piaget untuk bagaimana anak-anak berpindah dari suatu tahapan pemikiran ke tahapan pemikiran berikutnya. Perpindahan ini terjadi karena anak mengalami konflik kognitif kognitif dalam usahanya memahami dunia sampai akhirnya dapat menyelesaikan konflik tersebut dan mencapai suatu keseimbangan pemikiran.

Teori Piaget tentang Perkembangan Intelektual Anak


Teori Piaget tidak berpengaruh pada pendidikan Amerika. Pekerjaan awalnya dalam biologi, bukan psikologi atau pendidikan, dan tulisannya harus diterjemahkan dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Inggris. Dia bahkan tidak tertarik di bidang pendidikan, tapi malah tertarik pada epistemologi genetik, atau studi tentang perkembangan pengetahuan pada manusia. Awalnya ia membentuk teori dengan mengamati anak-anaknya sendiri. Penelitiannya dengan menggunakan metode intensif yang mengamati sejumlah kecil subyek dan sangat berbeda dari tradisi behavioris yang begitu dominan di Amerika Serikat pada waktu itu, dan sebagai hasilnya butuh waktu untuk karyanya untuk dapat diterima. Sebagai penelitian tambahan telah diverifikasi dan memperluas temuan Namun, karyanya memiliki dampak yang sangat penting terhadap teori perkembangan dan belajar.

Senin, 26 Maret 2012

Contoh Laporan Evaluasi Program

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab kita bersama baik antara pemerintah maupun  masyarakat sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 31 ayat (1) yakni memberi hak kepada setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pengajaran.
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan  Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun  wajib  mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah derah menjamin  terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.
Di bidang pembangunan pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya baik yang berkaitan dengan peningkatan kuantitas maupun kualitasnya. Dalam prakteknya, upaya itu sering kali menghadapi berbagai kendala. Krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia, misalnya disinyalir telah membawa dampak bertambahnya jumlah kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Kondisi ini menyebabkan semakin banyak orang yang tak mampu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan merupakan masalah tersendiri dalam memberikan layanan pendidikan  kepada seluruh lapisan masyarakat.
Sistem pendidikan yang dimungkinkan dapat diterapkan untuk itu adalah sistem pendidikan terbuka jarak jauh. Karena sistem pendidikan ini diterapkan pada jenjang pendidikan menengah khususnya SMP, maka kita sebut dengan SMP Terbuka.
Permasalahan dalam pendidikan sangat kompleks. Salah satu alternatif pemecahanya dimulai dari penemuan konsep SMP Terbuka oleh pemerintah yang diilhami oleh berbagai aspirasi masyarakat lapis bawah yang disampaikan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional).